PANGKEP SULSEL - Pertumbuhan ekonomi daerah tidak lahir dari angka semata, melainkan dari kebijakan yang mampu menggerakkan aktivitas ekonomi secara nyata. Ketika sebuah daerah mengalami peningkatan PDRB, IPM yang membaik, serta penurunan tingkat pengangguran, maka publik berhak bertanya: apa yang menjadi pemicunya? Kenaikan indikator makro tersebut tidak mungkin terjadi tanpa adanya intervensi kebijakan yang terukur dan berdampak langsung ke masyarakat.
Dalam konteks daerah seperti Pangkep, pertumbuhan ekonomi tidak bisa dilepaskan dari karakter wilayah yang bertumpu pada pertanian, perikanan, peternakan dan UMKM. Keempat sektor ini adalah fondasi ekonomi rakyat yang selama ini menopang kehidupan masyarakat. Namun, fondasi yang kuat tetap membutuhkan dorongan agar mampu bergerak lebih cepat dan menghasilkan lompatan pertumbuhan yang signifikan.
Selama bertahun-tahun, pertanian, perikanan, peternakan dan UMKM cenderung bergerak secara alamiah dan bertahap. Tanpa pasar yang pasti dan permintaan yang stabil, sektor-sektor ini sering kali berjalan di tempat. Inilah sebabnya mengapa lonjakan pertumbuhan ekonomi jarang terjadi jika hanya mengandalkan mekanisme pasar biasa tanpa campur tangan kebijakan publik.
Di sinilah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mengambil peran strategis. MBG bukan sekadar program sosial, melainkan instrumen kebijakan ekonomi berbasis konsumsi publik. Program ini menciptakan permintaan nyata dan berkelanjutan terhadap produk lokal, mulai dari hasil pertanian, perikanan, peternakan hingga jasa pengolahan dan distribusi yang melibatkan UMKM serta tenaga kerja lokal.
Dampak MBG bersifat langsung dan berlapis. Perputaran uang di daerah meningkat sehingga mendorong kenaikan PDRB. Kualitas gizi dan kesehatan anak serta keluarga membaik, yang berkontribusi pada peningkatan IPM. Pada saat yang sama, terbukanya peluang kerja di sektor pendukung MBG turut menekan tingkat pengangguran. Inilah korelasi yang tidak bisa diabaikan.
Memang benar bahwa pertanian, perikanan, peternakan dan UMKM adalah penggerak utama ekonomi daerah. Namun, lonjakan pertumbuhan tidak terjadi secara spontan. MBG berfungsi sebagai pengungkit yang mempercepat kerja sektor-sektor tersebut. Ia tidak menggantikan peran ekonomi rakyat, tetapi justru mengorkestrasi dan memperkuat dampaknya secara lebih luas dan terstruktur.
Adapun kegagalan implementasi MBG di beberapa daerah akibat penyimpangan atau lemahnya tata kelola tidak dapat dijadikan ukuran untuk menilai efektivitas program ini secara keseluruhan. Kegagalan tersebut adalah persoalan manajemen daerah, bukan cacat kebijakan. Daerah yang mampu mengelola dengan baik justru menunjukkan hasil yang nyata dan terukur.
Karena itu, ketika publik mempertanyakan sumber kenaikan signifikan indikator ekonomi daerah, jawaban yang jujur harus disampaikan. Kenaikan tersebut bukan sekadar hasil dari slogan atau klaim program lain yang minim dampak empiris, melainkan buah dari kebijakan yang secara langsung menyentuh ekonomi rakyat dan menciptakan permintaan yang nyata.
Pada akhirnya, MBG telah membuka arah baru dalam pembangunan ekonomi daerah. Ia membuktikan bahwa kebijakan yang berpihak pada rakyat, berbasis potensi lokal, dan dikelola secara akuntabel mampu mendorong daerah bergerak lebih inovatif, produktif, dan berkelanjutan. Inilah wajah pertumbuhan ekonomi yang tidak hanya tumbuh di atas kertas, tetapi juga terasa di kehidupan masyarakat.
Pangkep 13 Januari 2026
Herman Djide
Ketua Dewan Pimpinan Daerah Jurnalis Nasional Indonesia Cabang Kabupaten Pangkajene Kepulauan Provinsi Sulawesi Selatan

Updates.